Jumat, 16 Februari 2024

3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1



Modul 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Khusus:

CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media. CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Perkenalkan saya Aktri Nita Maryanti, CGP ANGKATAN 9 Kab. Tanah Datar, dari SMAN 1 Lintau Buo. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai Kebajikan sebagai seorang pemimpin

Dari kutipan di bawah ini :

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” (Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best). Bob Talbert

Menurut saya kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang saya hadapi saat ini sebagai pendidik, mengajarkan tentang ilmu dan materi memang sebuah hal yang bagus dan penting, tetapi kita juga di harapkan untuk dapat menutun tumbuhnya kekuatan kodrat murid sehingga dapat memperbaiki tingkah lakunya. Sehingga guru dapat menuntun segala kekuatan kodrat (potensi murid) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai masyarakat dan sebagai anggota masyarakat.

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan semboyan ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri Handayani artinya di depan memberi teladan,di tengah membangun motivasi/dorongan, di belakang memberi dukungan. Berdasarkan hal tersebut diatas guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutnya bisa menjadi panutan untuk melakukan proses pendidikan sehingga menjadi pamong untuk para Murid dan setiap masalah yang di hadapi bisa di kelola dan di buat keputusan dengan menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, mencoba menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Dengan harapan dapat memberi keputusan yang solutif dan tetap memanusiakan manusia.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Pada prosesnya “menuntun” saat Murid akan diberi kebebasan memilih namun guru sebagai pamong tetap memberi tuntunan dan arahan agar Murid tidak kehilangan arah dan tidak fokus. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan agar Murid menemukan Pasion yang akan berdampak pada pengambilan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu pernah mengalami dilema etika atau bujukan moral pada sebuah keputusan yang diambil saat menangani kasus murid atau rekan sejawat di sekolah, dengan mempertimbangan nilai benar vs benar (situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana dua pilihan itu secara moral benar tetapi bertentangan), benar vs salah (seseorang membuat keputusan antara benar          atau salah)

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Dalam aspek pembelajaran dikelas guru sebagai pembawa agen perubahan harus bisa mengetahui kebutuhan belajar murid sekaligus sebagai memberi contoh yang baik bagi Murid memahami karakter belajar Murid serta kondisi social emosional sebagai pemimpin pembelajaran dikelas. Dalam hal ini juga untuk terciptanya profil pelajar Pancasila Murid harus bisa menyelesaiakan sendiri persoalan belajarnya di kelas yang merupakan dilemma bagi mereka, dan di sinilah penting pendekatan Coaching, dimana guru sebagai coach memberi pertanyaan pemantik yang akan dijawab oleh Murid untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang dilaminya terutama yang merupakan dilema baginya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran selalu bersedia meluangkan waktu jika Murid membutuhkan, atau jika meihat ada perubahan belajar yang menurun pada Murid. Coaching dan itu tidak terlepas dari komunikasi yang baik antara coach dan coachee, Harapan coaching dapat mengatasai masalah belajar Murid.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya murid

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Seorang pendidik harus bisa melihat bagaiamana persoalan tersebut apakah merupakan dilema etika atau merupakan bujukan moral, nilai-nilai yang akan diambilpun merupakan nilai yang merupakan proses kegiatan yang merupakan titik temunya adalah sebagai pemimpin pembelajaran tetap dengan berbagai cara akan menuntun Murid tersebut kearah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil merupakan keputusan yang bertanggung jawab.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran tentunya akan berdampak postif, aman, dan nyaman apabila kita bisa melihat kondisi saat mana kita akan mengambil sebuah keputusan yang tentu yang jika itu adalah dilema maka kita bisa meminimalisir dilema tersebut agar dalam pengambilan yang bersifat dilema itu tidak terlalu berpengaruh. Dan jika merupakan suatu bujukan moral kita harus mengetahui bahwa hal yang dilakukan salah dan nantinnya guru sebagai pemimpin pembelajaran akan dengan bijak membuat keputusan namun tetap membimbing Murid menuju ke pengambilan keputusan tepat baik untuk guru maupun untuk Murid meskipun susah. Dalam hal ini Murid tetap merasa bahwa guru adalah seorang pemimpin yang mampu membuat situasi kondusif, aman dan nyaman di lingkungan sekolah maupun sekitarnya.

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Menurut saya iya, kesulitan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Diantaranya adalah sistem yang kadang jika memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid. Yang kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan Bersama. Yang ketiga keputusan yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Sebagai seorang Guru yang setiap hari bertemu dengan murid dan bertemu dengan teman sejawat yang mempunyai karakter bermacam-macam dan mempunyai masalah beragam pula, saya merasa terbantu dengan penjelasan materi dari modul 3.1 sebab sebelumnya kita sering menemukan masalah namun kita selalu menyelesaikan masalah secara mentor maupun konseling sekarang setelah belajar choaching kita lebih bisa mengembangkan cara berfikir kita dan membuat keputusan yang berfihak pada murid meskipun kadang teman sejawat belum bisa berfikir yang sama.

Dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul guru penggerak sudah seharusnya kita bisa memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat Murid merasa nyaman, dan tenang. Harapannya kita bisa menciptakan Murid berkarakter profil pelajar pancasila tetapi tetap memiliki kompetensi yang unggul.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Dengan memberi nilai-nilai positif, menciptakan rasa nyaman pada Murid merupakan motivasi seorang pendidik dalam mengambil keputusan. Seorang pendidik dengan berbagai cara pasti akan memberikan yang terbaik untuk Muridnya oleh karena itu keputusan yang baik pula untuk perkembangan Muridnya.

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir terkait modul 3.1

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya merupakan suatu tidak terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar pada murid, Ki Hajar Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu juga dimana proses pembelajaran di seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada anak serta mengelolah kompertensi social emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pendekatan Coaching juga merupakan salah satu cara kita (coach) untuk membantu choachee dalam mencari solusi/ mengembangkan bakat yang terpendam sehingga akan muncul sebuah keputusan yang bertanggung jawab dari choachee. Dan dengan belajar mengambil keputusan menggunakan tiga prinsip yang di ajarkan pemikiran kita lebih terbuka agar bisa mengambil keputusan yang berfihak pada murid atau jika itu dilema etika yang berkaitan dengan rekan sejawat kita bisa menemukan solusi yang tepat meskipun kadang menyakitkan hati. Tetapi demi profesionalitas dalam pendidikan bujukan moral harus segera di punahkan.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?


Konsep dilemma etika dan bujukan moral adalah sebuah konsep praktis yang aplikasinya adalah pengambilan keputusan dalam kaitannya sebagai pemimpin yang berbasis nilai nilai kebajikan.
Dalam pengaplikasiannya, diperlukan identifikasi yang jeli, jelas dan mendetail dalam mengenali kedua hal ini.
Identifikasi mendalam diarahkan pada 4 paradigma masalah, 3 prinsip mengatasi masalah serta 9 langkah pengujian keputusan. Hal hal diluar dugaan yang terjadi adalah, ternyata hal hal tersebut telah dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari, hanya saja belum maksimal dan sistematis sehingga terkadang masih terdapat benturan dalam pelaksanaannya.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini, tanpa sadar kami telah menerapkan mengambil keputusan sebagai pemimpin dalam situasi dilema etika, hanya saja bedanya kami belum menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian keputusan.

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang sangat positif tentunya, dengan mempelajari modul ini sehingga kita mampu mengidentifikasi antara dilema etika dan bujukan moral, dan tentunya mampu untuk mengatasinya.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi anda sebagai seorang individu dan anda sebagai seorang pemimpin ?

Dengan begitu pentingnya materi ini baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin, sehingga tentunya materi ini sangat diperlukan bagi calon calon pemimpin dalam pembelajaran.

 

 

 

Sabtu, 28 Oktober 2023

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 1.4

    

  

LAPORAN

AKSI NYATA MODUL 1.4




Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Program Pendidikan Guru Penggerak

Angkatan 9 Kabupaten Tanah Datar



OLEH :


AKTRI NITA MARYANTI

CGP ANGKATAN 9

KABUPATEN TANAH DATAR



KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PROGRAM GURU PENGGERAK ANGKATAN 9

SMAN 1 LINTAU BUO

KECAMATAN LINTAU BUO UTARA

2023



A.      Latar Belakang

Menurut filosopi Ki Hadjar Dewantara, kita sebagai pendidik diibaratkan sebagai seorang petani. Petani harus memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Artinya, nilai dan peran kita sebagai seorang guru harus mampu membuat suasana sekolah layak untuk dijadikan tempat belajar murid, layak dari segi keamanan dan kenyamanannya. Sehingga karakter baik akan tumbuh pada diri murid yang sesuai dengan visi Profil Pelajar Pancasila.

Hal tersebut dapat dicapai apabila sekolah mampu menghadirkan sebuah budaya positif dalam kesehariannya. Budaya positif sekolah tumbuh dari disiplin positif berdasarkan keyakinan-keyakinan positif yang dibentuk di kelas dengan mempertimbangkan kebutuhan murid. Guru dan murid juga harus berkolaborasi untuk menerapkan restitusi sebagai solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah yang timbul. Dalam hal ini, diharapkan guru hadir sebagai seorang manajer dalam proses restitusi murid.

Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan.

 

B.       Tujuan Aksi Nyata

  1. Menciptakan murid yang merdeka dan disiplin diri yang kuat
  2. Menumbuhkan budaya positif disekolah dengan meyakini nilai-nilai kebajikan universal


 C.      Tolok Ukur

  1. Terbentuknya “Keyakinan Kelas “ melalui kegiatan kesepakatan kelas yang dilakukan wali      kelas,guru dan murid
  2. Murid mampu menerapkan dan menjalankan “ Keuakinan Kelas yang telah dibuat
  3. Terlaksanananya desiminasi konsep inti budaya positif di sekolah
  4. Terlaksananya penyelesaian masalah murid dengan segitiga restitusi


D. Linimasa Tindakan yang Akan Dilakuka

  1. Berkolaborasi dengan Kepala Sekolah , wakil serta meminta izin mendiseminasikan bersama rekan guru
  2. Mengumpulkan rekan guru untuk melakukan Diseminasi Pemahaman materi budaya positif (perubahan paradigma belajar, disiplin positif, kebutuhan dasar manusia,motivasi prilaku manusia, keyakinan kelas, posisi kontrol guru, segitiga restitusi.
  3. Berkoordinasi dan berkolaborasi dengan wali kelas untuk membuat keyakinan kelas dan ditempelkan didinding kelas masing -masing


E. Daya Dukung

  1. Dukungan dari kepala sekolah , rekan guru dan murid agar tindakan yang telah disusun dapat dilakukan secara lancar dan menyeluruh
  2. Sarana dan Prasarana untuk menumbuhkan budaya positif di sekolah
  3. Orang tua dalam melakukan budaya positif di rumah


F. Rencana Aksi Nyata

G.   Deskripsi Aksi Nyata

Berikut ini merupakan deskripsi dari setiap kegiatan dalam program yang telah dibuat.

Kegiatan yang akan dilakukan adalah :

  1. Menerapkan budaya positif di kelas dengan membuat keyakinan kelas secara bersama-sama.Pembuatan keyakinan kelas ini diharapkan dapat membantu menanamkan nilai-nilai positif dalam diri murid sehingga dapat menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah.
  2. Melakukan diseminasi (penyebaran pemahaman) budaya positif kepada rekan guru di sekolah. Hal ini dimaksudkan agar ilmu dari modul 1.4 budaya positif yang telah didapatkan oleh calon guru penggerak tersampaikan kepada rekan guru lain, sehingga tercipta budaya positif yang baik di sekolah. Yang terdiri dari materi disiplin positif, motivasi, keyakinan kelas, kebutuhan dasar manusia, lima posisi control, dan segitiga restitusi.


H.       Hasil Aksi Nyata


I.       Lesson Learned (Pelajaran yang Didapat)

Dalam pelaksanaannya program yang dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah dibuat. Maka dari gambaran diatas dapat diketahui bahwa rencana kegiatan telah dapat dilaksanakan.Akan tetapi dalam pelaksanaan kegiatannya masih terdapat banyak kekurangan yang perlu ditingkatkan lebih baik lagi untuk ke depannya. Adapun pelajaran yang didapat dari rencana aksi modul 1.4 ini adalah dengan menyepakati keyakinan kelas secara bersama, murid mampu memahami nilai-nilai positif yang harus ditanamkan di dalam dirinya masing-masing. 

Dengan dimulainya penanaman nilai-nilai positif sejak kecil, diharapkan nilai-nilai tersebut melekat ndalam diri murid sampai dewasa nanti.Pembuatan keyakinan kelas ini diharapkan dapat menciptakan budaya positif di sekolah. Dalam penyebaran pemahaman kepada rekan guru, guru banyak sekali mendapatkan ilmu yang belum diketahui selama ini, terutama dalam posisi control dan pemecahan masalah dengan menggunakan segitiga restitusi.

J.      Rencana Tindak Lanjut

  1. Pelaksanaan rencana aksi pada modul 1.4 ini akan terus dilanjutkan ke depannya. Menerapkan keyakinan-keyakinan kelas yang telah disepakati dalam proses pembelajaran di kelas. Selanjutnya memonitor pelaksanaan keyakinan kelas dan memperbaiki jika ada  yang perlu diperbaiki.
  2. Selalu melakukan evaluasi secara berkala.
  3. Terus meningkatkan koordinasi dengan semua pihak di lingkungan sekolah.
  4. Terus meningkatkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan budaya positif.
  5. Terus menganalisis kebermanfaatan hasil diseminaasi terhadap murid dan rekan sejawat.

 H.     Dokumentasi Kegiatan berupa Video :

Silahkan kunjungi link Youtube : https://youtu.be/CDN8nRXXzbY

            


Minggu, 05 Juli 2020

Cetak Bukti Pendaftaran Ulang SMA N 1 Lintau Buo

Selasa, 23 Juni 2020

Cetak Bukti PPDB 2020